Polemik Pajak dan Dampak Krisis Moneter di Spanyol


Football5star.com, Indonesia – Kasus pajak marak terjadi di persepakbolaan Spanyol beberapa tahun terakhir. Pada September 2018, Jose Mourinho dan Marcelo tersandung masalah tersebut.
Pengadilan Spanyol menjatuhi Mourinho hukuman terkait penggelapan pajak hak citra senilai 3,3 juta euro. Itu terjadi ketika dia masih berstatus pelatih Real Madrid pada 2011-2012.
Marcelo, yang pernah diasuh Mourinho, juga terjerat kasus serupa. Bek kiri Madrid tersebut terbukti bersalah karena mengemplang pajak sebesar 490 ribu euro.
Keduanya menambah panjang daftar figur sepak bola yang melakukan penghindaran pajak di Spanyol. Ironisnya, kasus ini juga menjerat pemain selevel Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Ronaldo terbukti menggelapkan pajak sebesar 14,7 juta euro pada 2011-2014. Sementara itu, Messi membuat pemerintah pajak merugi dari sektor pajak senilai 4,1 juta euro pada periode 2007-2009.
Ancaman penjara dapat mereka hindari. Syaratnya tentu harus mengaku dalam persidangan serta melunasi tunggakan pajak yang telah ditambah dengan denda.
 
Dampak Krisis
Pada Mei 2017, KPMG Football Benchmark melaporkan bahwa pajak gaji pemain di Spanyol mencapai angka 47,6 persen. Jumlah tersebut masih lebih kecil dibanding di Italia, Inggris dan Spanyol.
Meski demikian, jumlah penghasilan pemain bakal berkurang dalam jumlah besar. Sebagai gambaran kasar, Ronaldo harus membayar pajak 10 juta euro lantaran mendapat gaji 21 juta euro di Madrid pada musim lalu.
Sejumlah pihak anggap “Beckham Law” bisa menekan kemungkinan kasus pajak di Spanyol. Foto: sport.net
Warga negara asing pernah mendapat keringanan pajak dari pemerintah Spanyol pada 2005. Mereka hanya perlu membayar sebear 25 persen dengan beberapa ketentuan.
Aturan tersebut diberi nama Beckham Law. Itu tidak lepas dari keberadaan David Beckham di Santiago Bernabeu. Gelandang Madrid itu menjadi pemain bergaji besar pertama yang merasakannya.
Keringanan tersebut tidak bertahan lama. Pemerintah Spanyol mencabutnya setelah dilanda krisis moneter pada 2010.
Banyak pemain memakai jasa pihak ketiga yang bertindak sebagai konsultan keuangan. Terkadang, pihak ketiga tersebut menyamarkan sejumlah penghasilan tahunan kliennya menjadi hasil investasi di luar negeri.
Itu merupakan salah satu upaya menekan biaya pengeluaran untuk pajak. Sesuai regulasi Spanyol, pajak hanya diberlakukan terhadap penghasilan di daerah yuridiksinya.
Pajak memang kerap menjadi musuh bagi pesepak bola, terutama yang tengah memasuki pengujung karier. Jadi, tidak heran jika banyak pemain top yang hijrah ke negara dengan biaya pajak lebih rendah.
Turki merupakan salah satu destinasi favorit. Besaran pajak di sana hanya sekitar 15 persen. Maka, tidak heran melihat Wesley Sneijder hijrah ke Galatasaray (2012) pada ? dan Robin van Persie bergabung dengan Fenerbahce (2015).
The post Polemik Pajak dan Dampak Krisis Moneter di Spanyol appeared first on Football5star Berita Bola.