Kesialan Pemain Bola Liga Italia Ini, Hampir Mati, Kehilangan Adik

Kesialan beruntun menimpa pemain sepak bola di Liga Italia ini. Sudah hampir mati gara-gara satu penyakit, eh adik perempuannya ditembak seorang kriminal. Begini ceritanya.
Gelandang Hellas Verona Emmanuel Agyemang-Badu mengakui bahwa tahun 2019 dan 2020 ini merupakan tahun-tahun terberat dalam hidupnya. Dia hampir saja meninggal dan kemudian kehilangan adik perempuannya.
Pemain bola Liga Italia asal Ghana berusia 29 tahun Emmanuel Agyemang-Badu menghabiskan sebagian besar karirnya di Italia bersama Udinese dan Verona sejak 2019.
Pada periode pra-musim 2019, ia dilarikan ke rumah sakit akibat sebuah penyakit yang ternyata adalah emboli paru – penyumbatan pada pembuluh darah di paru-paru – yang bisa berakibat fatal jika tidak dirawat dengan cepat.
“2019 dan 2020 adalah tahun-tahun terberat dalam hidup saya. Saya hampir mati, saya mengalami banyak cedera – dan kemudian saya kehilangan adik perempuan saya dengan cara yang sangat menyakitkan,” kata Agyemang-Badu, seperti dikutip oleh BBC World Service.
“Sangat sulit bagi saya dan keluarga saya. Orang yang menembak adik saya sedang menjadi buronan polisi. Mereka (kepolisian Ghana) belum menangkapnya karena situasi kacau karena virus ini. Itu adalah bencana.”
Adik Agyemang-Badu, Hagar, terbunuh di Berekum bulan lalu. Meski polisi mengklaim mereka telah berhasil mengidentifikasi si pembunuh, namun si pelaku belum ditemukan. Sementara itu, Agyemang-Badu, pacarnya dan bayi mereka sekarang sedang menjalani isolasi di Verona selama pandemi yang menyapu Eropa dan seluruh dunia akhir-akhir ini.
“Saya perlu berterima kasih kepada keluarga dan teman-teman saya dan tim kami serta agen saya. Pelatih saya telah menghubungi saya setiap hari untuk memeriksa keadaan saya – juga manajer tim dan presiden klub. Mereka semua luar biasa. Tanpa mereka itu akan menjadi bencana.”
Seminggu sebelum musim baru Liga Italia 2019/2020 dimulai, pemain bola Liga Italia itu dilarikan ke rumah sakit di tengah malam dengan kondisi yang mengancam nyawa.
“Pagi setelah pertandingan saya datang ke gym untuk melakukan beberapa latihan. Malam itu saya pulang dan kesulitan bernapas. Saya tidak menganggapnya serius pada awalnya – saya pikir itu hanya kelelahan saja. Di pagi hari mereka memberi saya obat penghilang rasa sakit. Tetapi malam berikutnya bahkan lebih buruk.”
“Pada jam 2 pagi saya menelepon dokter dan untungnya dia sudah bangun. Dia mengirim seorang fisioterapi yang lebih dekat dengan saya dan dia datang – dan segera berkata, ‘Kita harus pergi ke rumah sakit’.”
“Akhirnya mereka mengetahui bahwa saya memiliki gumpalan darah di paru-paru saya. Saya harus berhenti bermain sepak bola selama tiga hingga empat bulan. Itu sangat serius. Saya pikir jika fisioterapi dan dokter tidak memeriksaku, itu akan menjadi bencana.”
“Dari Agustus hingga Desember saya tidak melakukan apa-apa. Saya kembali berlatih bersama tim selama 3-4 minggu dan mulai mengurangi waktu bermain sepak bola – tetapi kemudian virus itu [Covid-19] terjadi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa – saya hanya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya masih bisa hidup.”
“Saya baik-baik sekarang – tidak ada cedera. Hidup lebih berharga daripada sepak bola, jadi saat ini kita harus menjaga diri kita sendiri. Selalu waspada dan berdoa agar hal ini berjalan cepat, sehingga kita semua dapat kembali melakukan apa yang kita sukai.”
Sumber: Kesialan Pemain Bola Liga Italia Ini, Hampir Mati, Kehilangan Adik
Berita Bola


Thursday January 01, 1970